Senin, 14 Maret 2011

tapa brata


setelah riuh membahana moksa

barangkali seseorang masih limbung dan linglung,

gagu,

gagap,

dengan gestur skizofrenia atau pening hipertensia.


tangan itu gemetar meraih kendi kosong

di atas meja kayu lapuk

menyembunyikan nama

menyembunyikan derita.


dan gedhek, papan anyaman bambu dengan tekstur boyak,

tak lagi acuh, akan ratapan tengah malam buta,

semacam sembah khusyuk, atau percakapan sukma,

tentang kepulangan tertunda,



“tapi, aku ingin lekas dan lepas seperti setiakala “ bibir itu meminta,

dan remang ruang mengatupkan lena,

seolah sipit burit, tatapan terakhir, memindai ke nirwana.


2008

Tidak ada komentar: