setelah riuh membahana moksa
barangkali seseorang masih limbung dan linglung,
gagu,
gagap,
dengan gestur skizofrenia atau pening hipertensia.
tangan itu gemetar meraih kendi kosong
di atas meja kayu lapuk
menyembunyikan nama
menyembunyikan derita.
dan gedhek, papan anyaman bambu dengan tekstur boyak,
tak lagi acuh, akan ratapan tengah malam buta,
semacam sembah khusyuk, atau percakapan sukma,
tentang kepulangan tertunda,
“tapi, aku ingin lekas dan lepas seperti setiakala “ bibir itu meminta,
dan remang ruang mengatupkan lena,
seolah sipit burit, tatapan terakhir, memindai ke nirwana.
2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar