Tampilkan postingan dengan label Puisi 2006. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi 2006. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

di dekat danau


aku menunggu bangau hinggap


2006

ada


terberkati api, berkobar


terberkati air, mengalir


terberkati angin, semilir


terberkati tirai, tergerai


kalaulah engkau hadir mensinyalir garis takdir:

padamkan api itu

jernihkan air pada situ

hembuskan angin ungu

bukalah tirai waktu


lalu, pada tiap setapak, tercetak penunda dan jejak,

retak dan berjarak.


2006-2008

Sabtu, 12 Maret 2011

a. k.


I

pagi menyentuh kaki, anakku, dingin gemetar,

gemar mengurut urat nadi.


II

cangkul, sabit, bajak tertambat

di dekat selumbat,

sayup-sayup mengusik telapak.


III

kusruput kopi, sebentar lagi kupandu pelangi,

memadu warna-warni

pucuk sunyi biji padi.


IV

ibumu, anakku, sibuk menyalakan api,

pada tungku tanah dari negri entah brantah

mengepul, menguap, malu-malu, seperti terpenjara sembilu.


V

sawah, adalah kata resah, kering dan basah.


VI

palawija semusim, jagung sebatang jarum,

pancang kacang, mengukur seremoni panen raya.


VII

sebentar, rupa rawi, melerai mendung,

meredam gemuruh segulung guntur.


VIII

rantang: nasi putih, sayur asem, ikan asin, sambal terasi,

mengulas rutinitas yang getas, menetas.


IX

bumi, anakku, ranjang suci, butir samadhi,

kesetiaan mimpi.


2006