aku menunggu bangau hinggap
2006
terberkati api, berkobar
terberkati air, mengalir
terberkati angin, semilir
terberkati tirai, tergerai
kalaulah engkau hadir mensinyalir garis takdir:
padamkan api itu
jernihkan air pada situ
hembuskan angin ungu
bukalah tirai waktu
lalu, pada tiap setapak, tercetak penunda dan jejak,
retak dan berjarak.
2006-2008
I
pagi menyentuh kaki, anakku, dingin gemetar,
gemar mengurut urat nadi.
II
cangkul, sabit, bajak tertambat
di dekat selumbat,
sayup-sayup mengusik telapak.
III
kusruput kopi, sebentar lagi kupandu pelangi,
memadu warna-warni
pucuk sunyi biji padi.
IV
ibumu, anakku, sibuk menyalakan api,
pada tungku tanah dari negri entah brantah
mengepul, menguap, malu-malu, seperti terpenjara sembilu.
V
sawah, adalah kata resah, kering dan basah.
VI
palawija semusim, jagung sebatang jarum,
pancang kacang, mengukur seremoni panen raya.
VII
sebentar, rupa rawi, melerai mendung,
meredam gemuruh segulung guntur.
VIII
rantang: nasi putih, sayur asem, ikan asin, sambal terasi,
mengulas rutinitas yang getas, menetas.
IX
bumi, anakku, ranjang suci, butir samadhi,
kesetiaan mimpi.
2006