I
adalah dinding menghening,
pada selembar perca, dingin dan menguning,
dan bicara: dasar masih samar,
seperti semu isyarat tanda dan penanda,
pada gurat tembikar purba.
di sana rentang rua,
mengirim pesan serupa rima,
semacam ritme upacara, penuh ritus puja, dan alunan sunyata do’a,
seluas savana, tumpah mengeja, titik terakhir sebutir kosmis,
tergelincir, berhenti, dengan hati berlapis tangis.
II
engkau masih di sini, masih di sini,
mengunyah sepotong sepi,
gerak hati di remang pembaringan,
sudah itu malam, malam,
sayang,
III
dan tidak ada orang pulang, konon, ada anak, pernah tersesat, kemudian hilang,
mungkin kelabang di kolong dipan, lipan di lantai porselin,
mungkin nafas sesaat, tak terasa melesat,
dengan gores labas ke sudut, desah... merembas.
IV
dan impas.
2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar