sungai itu, bisa jadi semacam antasenden waktu: membangun liku; kelokan
tajam, menuju sentuhan (jeram dan geram)
ada yang karam dalam ngilu arus, seperti lidah bernanah, tak lepas melafalkan
saksi tuli, tentang seseorang menjatuhkan diri di kali, dari jembatan
kesunyian ini, lalu menjelma jadi peri: penunggu setia, bidadari yang tengah menyucikan diri.
sungai itu, adalah aliran tafsir, mungkin, dengan keruh atau jernih, tak lagi
sudi menatap rona narcissus, atau risalah hermes dengan galau interpretasi,
barangkali,
sungai itu terus menuju,
gemuruh ruh,
mengikis percikan api dan tepi,
dengan lapis amis dan skeptis.
2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar