kuletakkan segulung risalah, diam menunggu, mungkin kelabu, seperti wasiat, tergeletak pucat di ruang tamu,
memang, seseorang pernah mengintip bilik jantungmu. terengah, terusir dari
ujung pembuluh, sungguh…
namun, senyap, penghuni denyut diri, tengah khusuk bersimpuh dalam tapa brata,
pada lambung sampan, limbung, nyaris tenggelam
adalah sengat aliran
seperti abu dan debu, dari kremasi luang kosong dan gosong.
tapi, yang setia adalah sarang laba-laba dari rajutan serat jubah malaikat,
mengapung pada lengkung palung, kedalaman yang agung.
udara mengacuhkan panas
dingin membekas pada kertas
pena terlepas
kuingin seseorang menengok kembali: tatanan baka, guratan lama, atau
pecahan kristal darah, saat terjatuh dari cangkir serapah kata, sebelum kreot dan
derit sendi tak lagi menggelepar pada pagi.
2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar