Minggu, 13 Maret 2011

segulung risalah


kuletakkan segulung risalah, diam menunggu, mungkin kelabu, seperti wasiat, tergeletak pucat di ruang tamu,


memang, seseorang pernah mengintip bilik jantungmu. terengah, terusir dari

ujung pembuluh, sungguh…


namun, senyap, penghuni denyut diri, tengah khusuk bersimpuh dalam tapa brata,

pada lambung sampan, limbung, nyaris tenggelam


adalah sengat aliran


seperti abu dan debu, dari kremasi luang kosong dan gosong.


tapi, yang setia adalah sarang laba-laba dari rajutan serat jubah malaikat,

mengapung pada lengkung palung, kedalaman yang agung.


udara mengacuhkan panas

dingin membekas pada kertas

pena terlepas


kuingin seseorang menengok kembali: tatanan baka, guratan lama, atau

pecahan kristal darah, saat terjatuh dari cangkir serapah kata, sebelum kreot dan

derit sendi tak lagi menggelepar pada pagi.


2008

Tidak ada komentar: