Sabtu, 26 Maret 2011

saya coba bantah


saya coba bantah

adakah tuhan

ketika kau tengadah


sekuntum teratai merah merekah

sebungkah cadas pecah


saya coba bantah

tapi, kau bungkam

serupa ceruk karang

di beranda sebelah


saya coba bantah


berapa langit

dapat kau ungkit?


hujan bangkit

di pura rimba

dengan aroma dupa

menyentuh telapak ‘nigma dewa


namun, siapa pun

yang merangkum fantasi tanah

akan tahu, seberapa jauh, ia mampu melaju


seperti waktu yang kau tuju


saya tak dapat membantah.


2008

kaki bukit matahari


teriring angin terasering

teriring kemarau, pirau, pirau.....


lekuk setapak, terik menjerang,

fatamorgana mencipta torso bening hutan.


2008

sisi selatan


berentang kening bukit, menggeliat hutan

dalam liku pematang angan


selapis langit mengelupas

mendayu ungu, menderas butiran jingga cahaya

menggenangi kepundan batu-batu

tertegun luruh sayu matamu


pancaroba: peralihan goresan kuas senja,

sembunyi dalam segumpal sumsum marun jasadmu,


ketika tulang gemeletak patah

dan tidak ada pencegah;

siklus itu punah.


2008

sang pemikul


wajah itu kusut, mengerat kerutan tanah lebam

kulit hitam terbenam alas legam


rangka meregang, memalu alu, keriut engsel persendian


sepasang karung tambalan padat pepat

berayun bergelantung


menanjak menanjak tikungan


lurus menggerus aus arus.


2008

Senin, 14 Maret 2011

juvenil


semacam hijau kemelut

menyeruput semburat hangat kabut

dalam rimbun lembut

rumpun sehimpun lamun


semacam mata air biru

lugu meredup paru:

seisi sanubari giri

panas meremas beratus suksesi


semacam lenguh anak lembu, kurus kelabu

memburu beribu penjuru

savana suram layu,

menghampar sebentang taksa

dan mata pejal nokturnal: Panthera kumal


juvenil, juvenil, larilah, larilah, mengecup hening

laras fajar sunyi, senda suci, kelahiran berkali-kali.



2008