Minggu, 13 Maret 2011

hutan: dalam suatu prosesi perkecambahan


kepada UKF IPB dan JBH

fragmen I. di tepi darmaga


di tepi darmaga ini, kurendam kedua kakiku,

meresapi: kontras hijau berlapis, di pelipis

belantara yang miris.

dingin: isyarat pelukan hangat,

menelusup ke celah pori,

lalu, berlabuh:

pada jalur sulur-sulur saraf,

mengoyak timbunan merah

sisa respirasi sel-sel darah.

getar, gigil, kemudian merambati

tangga ganglia, menemui ujung pelupuk mata,

memenuhi rongga tengkorak kepala.

aku luluh dalam genangan, menyimpan

lembut alur gelombang.

cahaya menjadi ingin.

sukma, atau apa pun yang sulit dirunut

dari lorong panjang manusia,

hanyut.

di sana: anakan ikan, ganggang, teratai, akar tunggang serabut,

saling lilit; rajut; dan jalar.

aku berenang ke permukaan,

mendapati nuansa berbeda,

dan tiada.


fragmen II. angin ini menuntunku


angin ini menuntunku, menemui warna hembusan: putih,

hijau, biru. Tapi, suram tepian rimba

seolah berkata: hidup mungkin perkara rasa, tanpa warna,

tanpa nama.

di sana, di kedalaman, yang tak menyimpan kefahaman,

seolah ada yang mengajak kita bicara, perihal apa saja.

namun, sebelum kata, sebelum me-reka,

tak ada siapa-siapa, ternyata.

walaupun, kita berusaha menghentikan “istilah” lalu,

yang sering mengeluh: lelah menunggu,

dan percakapan pun

makin tak menentu.

padahal waktu: sebaris amsal yang membuat bayi terlahir

gentar berlari, adalah ilusi sunyi,

yang mulai pudar, letih dan memar.


fragmen III. ada yang akan sanjang


memang, ada yang akan sanjang, entah

dari utusan apa dan mengapa. kita juga takkan pernah

bisa mengerti, untuk memberi arti. tapi, setelah matahari meninggi,

bayang menepi, dan partikel embun surut ke tepi

setangkai arbei,

bisa jadi, sesuatu kelak berbisik: “ cukup!,

tak perlu terlampau difahami. nanti juga,

engkau pun akan berkata: ‘o……’

sambil terus kau buka semua pintumu,

supaya, tiada lagi yang merasa ‘tanpa, adaMu’’’

memang, waktu berteduh

hampir runtuh. kadang, suatu hal menjadi lumrah:

pasrah, ketika lupa akan arah untuk menyerah.


fragmen IV. sentuhan cahaya


sentuhan cahaya dari telinga kanopi

menelusup, nyeri, setumpuk serak serasah,

dan membelah iring-iringan semut merah, di celah tipis epidermis angsana,

saat kutimbun sebutir tanah,

sebagai rumah singgah, setelah resah menjelajah.

“terang, jarang bertandang” kata anggrek tanah.

dan, semakin tenggelam keakuanku, seperti obor padam.

ruang menghimpun wajah muram, pada ceruk batu hitam, seolah

samar mendekap dan lekap. segalanya

seperti lekat merekat.

“tumbulah,” pintaku, “dalam suatu detak kalbuku,

ladang subur, kasur sebiji mangrov, diasah asuh lumpur,

walaupun pasang menghanyutkan, menenggelamkan,

tapi, surut, dalam bait lain, akan menata lingkup,

dan menyanyikan paduan irama menimang.”

...lelap...

kalaulah Engkau menabur rabuk disini,

dalam suatu definisi, ekosistem yang nisbi,

tendaku masih luang, tungkuku hampir redup, angin berbisik lirih,

dan dingin akan segera memutih: tiuplah pelupukku…


fragmen V. ada yang begitu liar


ada yang begitu liar, hingar, menjalar,

melilit kering kerontang sebatang spesies ficus. liana,

menyebut dirinya, si pengelana angkasa, gagu, gagap,

memaksa lidahnya mencecap sesuap sabda,

paragraf buram yang bergentayangan dari dahan

ke kelengangan setonggak tiang gersang.

pada getar, tengkar, yang mencecar,

tonggeret dan pengerat berebut tempat,

dengan gema saling paksa saling bertimpa,

menempuh resonansi jauh…

walaupun, yang riuh,

telah luluh, bersimpuh

di lembah teduh.

bibir pun memerah, tenggorokan basah,

berlumuran getah, dan tengadah:

“belantara, Kau lumat kesumatku, dan laknatku.”


fragmen VI. selarik utopia nada


selarik utopia nada, menggeletar di permukaan laguna, dari

kolaborasi: reruntuhan irama dan orkestra samar:

ranting retas

serasah rapuh

gerak kaki belakang belalang menggali lubang sarang

keping puing embun, tergelincir dari gerigi rerumpun pandan.

padu.

Musik, mungkin, sentuhan terdalam, dimana kita, berurai air mata,

dimana tuhan, menduduki arsyi tertinggi: di hati...


fragmen VII. betapa sulit memahami arah dan tuju


“kau tahu, penglihatanku tak mampu meretas ranahmu,

kumohon, sematkan sandi itu di tiap kelokan dan telapakku,

setelah itu, mungkin kau akan tahu, betapa sulit memahami arah dan tuju,

juga tatapanmu”


fragmen VIII. setelah gerimis lerai


setelah gerimis lerai, daun-daun bersih terlucuti.

begitulah penyucian itu selesai, merenggut apa yang terlampau berpaut

setelah debu meleleh, retakan tanah mengatup, masih ada sisa jejak

cuaca, dan sepenggal aroma pancaroba. tapi, di sana…..

seseorang mungkin percaya, bahwa iklim adalah jerit musim,

yang terjepit, getir, dan pahit.


fragmen IX. daun berjatuhan


daun berjatuhan adalah huruf-huruf penempuh resah dan entah

burung yang kelu adalah lidah belasungkawa yang menjulur di

pematang luka dan dera

cinta, sebatas yang kita duga, barangkali telah membikin sakarotulmaut

sempurna: sesuatu yang berdenyut, kelak, suatu saat akan hanyut


fragmen X. muara


muara boleh jadi pelabuhan kita pertama sementara di samudera banyak hal

yang tak tereja sedangkan kita hanya bisa mengikuti lereng terjal kontur peta

yang tak terbaca


fragmen XI. seperti


seperti tak pasti

seperti sulit dimengerti

seperti tak tersentuh arti

seperti mimpi

seperti angin ini, tiba-tiba mendesau dari labirin falak,

mengepak, merobek membran pikiran; seruan; nafas, di sisi selatan kerangka

padang

bisa jadi seseorang telah menanti, memandangi tegakan, satu, satu. meresapi. mengurai. fisi. fusi. kontemplasi. meditasi.

mengelupas inti menguliti inti menuai inti melampaui inti

inti


2007-2008

Tidak ada komentar: