kepada UKF IPB dan JBH
fragmen I. di tepi darmaga
di tepi darmaga ini, kurendam kedua kakiku,
meresapi: kontras hijau berlapis, di pelipis
belantara yang miris.
dingin: isyarat pelukan hangat,
menelusup ke celah pori,
lalu, berlabuh:
pada jalur sulur-sulur saraf,
mengoyak timbunan merah
sisa respirasi sel-sel darah.
getar, gigil, kemudian merambati
tangga ganglia, menemui ujung pelupuk mata,
memenuhi rongga tengkorak kepala.
aku luluh dalam genangan, menyimpan
lembut alur gelombang.
cahaya menjadi ingin.
sukma, atau apa pun yang sulit dirunut
dari lorong panjang manusia,
hanyut.
di sana: anakan ikan, ganggang, teratai, akar tunggang serabut,
saling lilit; rajut; dan jalar.
aku berenang ke permukaan,
mendapati nuansa berbeda,
dan tiada.
fragmen II. angin ini menuntunku
angin ini menuntunku, menemui warna hembusan: putih,
hijau, biru. Tapi, suram tepian rimba
seolah berkata: hidup mungkin perkara rasa, tanpa warna,
tanpa nama.
di sana, di kedalaman, yang tak menyimpan kefahaman,
seolah ada yang mengajak kita bicara, perihal apa saja.
namun, sebelum kata, sebelum me-reka,
tak ada siapa-siapa, ternyata.
walaupun, kita berusaha menghentikan “istilah” lalu,
yang sering mengeluh: lelah menunggu,
dan percakapan pun
makin tak menentu.
padahal waktu: sebaris amsal yang membuat bayi terlahir
gentar berlari, adalah ilusi sunyi,
yang mulai pudar, letih dan memar.
fragmen III. ada yang akan sanjang
memang, ada yang akan sanjang, entah
dari utusan apa dan mengapa. kita juga takkan pernah
bisa mengerti, untuk memberi arti. tapi, setelah matahari meninggi,
bayang menepi, dan partikel embun surut ke tepi
setangkai arbei,
bisa jadi, sesuatu kelak berbisik: “ cukup!,
tak perlu terlampau difahami. nanti juga,
engkau pun akan berkata: ‘o……’
sambil terus kau buka semua pintumu,
supaya, tiada lagi yang merasa ‘tanpa, adaMu’’’
memang, waktu berteduh
hampir runtuh. kadang, suatu hal menjadi lumrah:
pasrah, ketika lupa akan arah untuk menyerah.
fragmen IV. sentuhan cahaya
sentuhan cahaya dari telinga kanopi
menelusup, nyeri, setumpuk serak serasah,
dan membelah iring-iringan semut merah, di celah tipis epidermis angsana,
saat kutimbun sebutir tanah,
sebagai rumah singgah, setelah resah menjelajah.
“terang, jarang bertandang” kata anggrek tanah.
dan, semakin tenggelam keakuanku, seperti obor padam.
ruang menghimpun wajah muram, pada ceruk batu hitam, seolah
samar mendekap dan lekap. segalanya
seperti lekat merekat.
“tumbulah,” pintaku, “dalam suatu detak kalbuku,
ladang subur, kasur sebiji mangrov, diasah asuh lumpur,
walaupun pasang menghanyutkan, menenggelamkan,
tapi, surut, dalam bait lain, akan menata lingkup,
dan menyanyikan paduan irama menimang.”
...lelap...
kalaulah Engkau menabur rabuk disini,
dalam suatu definisi, ekosistem yang nisbi,
tendaku masih luang, tungkuku hampir redup, angin berbisik lirih,
dan dingin akan segera memutih: tiuplah pelupukku…
fragmen V. ada yang begitu liar
ada yang begitu liar, hingar, menjalar,
melilit kering kerontang sebatang spesies ficus. liana,
menyebut dirinya, si pengelana angkasa, gagu, gagap,
memaksa lidahnya mencecap sesuap sabda,
paragraf buram yang bergentayangan dari dahan
ke kelengangan setonggak tiang gersang.
pada getar, tengkar, yang mencecar,
tonggeret dan pengerat berebut tempat,
dengan gema saling paksa saling bertimpa,
menempuh resonansi jauh…
walaupun, yang riuh,
telah luluh, bersimpuh
di lembah teduh.
bibir pun memerah, tenggorokan basah,
berlumuran getah, dan tengadah:
“belantara, Kau lumat kesumatku, dan laknatku.”
fragmen VI. selarik utopia nada
selarik utopia nada, menggeletar di permukaan laguna, dari
kolaborasi: reruntuhan irama dan orkestra samar:
ranting retas
serasah rapuh
gerak kaki belakang belalang menggali lubang sarang
keping puing embun, tergelincir dari gerigi rerumpun pandan.
padu.
Musik, mungkin, sentuhan terdalam, dimana kita, berurai air mata,
dimana tuhan, menduduki arsyi tertinggi: di hati...
fragmen VII. betapa sulit memahami arah dan tuju
“kau tahu, penglihatanku tak mampu meretas ranahmu,
kumohon, sematkan sandi itu di tiap kelokan dan telapakku,
setelah itu, mungkin kau akan tahu, betapa sulit memahami arah dan tuju,
juga tatapanmu”
fragmen VIII. setelah gerimis lerai
setelah gerimis lerai, daun-daun bersih terlucuti.
begitulah penyucian itu selesai, merenggut apa yang terlampau berpaut
setelah debu meleleh, retakan tanah mengatup, masih ada sisa jejak
cuaca, dan sepenggal aroma pancaroba. tapi, di sana…..
seseorang mungkin percaya, bahwa iklim adalah jerit musim,
yang terjepit, getir, dan pahit.
fragmen IX. daun berjatuhan
daun berjatuhan adalah huruf-huruf penempuh resah dan entah
burung yang kelu adalah lidah belasungkawa yang menjulur di
pematang luka dan dera
cinta, sebatas yang kita duga, barangkali telah membikin sakarotulmaut
sempurna: sesuatu yang berdenyut, kelak, suatu saat akan hanyut
fragmen X. muara
muara boleh jadi pelabuhan kita pertama sementara di samudera banyak hal
yang tak tereja sedangkan kita hanya bisa mengikuti lereng terjal kontur peta
yang tak terbaca
fragmen XI. seperti
seperti tak pasti
seperti sulit dimengerti
seperti tak tersentuh arti
seperti mimpi
seperti angin ini, tiba-tiba mendesau dari labirin falak,
mengepak, merobek membran pikiran; seruan; nafas, di sisi selatan kerangka
padang
bisa jadi seseorang telah menanti, memandangi tegakan, satu, satu. meresapi. mengurai. fisi. fusi. kontemplasi. meditasi.
mengelupas inti menguliti inti menuai inti melampaui inti
inti
2007-2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar