Minggu, 13 Maret 2011

avonturir


mungkin, di pemberhentian nanti,

akan ada galah, ingin menggapai tuah,

berkali-kali menyanggah, berkali-kali kalah.


”biarlah...”suara desah itu, ”yang lepas, adalah kernyit gemas, atau rencana lengas.

memang, agenda kita sering tertunda, karena kita tak lihai merapal mantra,

senasib pepatah lama, mulai renta.”


sore ini, atau kapan saja, akan ada senja, enggan merapat ke barat,

mungkin sedikit ingin berkelit dari hari yang sulit, dan kita sebagai terlaknat,

hanya bisa merambat dengan lambat, seperti penghianat, dengan tangan terikat,

diseret ke belukar duri rimba, penuh ranjau darat,

diinjak meledak,


namun, dapatkah kita menanak dengan benak lunak,

deskripsi luluh lantak, dan

argumentasi berlarat, di pagi ini?


dapur penuh kepul api,

walaupun api, adalah lidah biru, paling kita takuti? dan pembakaran,

pelucutan itu, seperti tidak mau terhenti, melecuti kehendak untuk mati?


pada sisa bara, seolah ada sesuatu akan berakumulasi menjadi murni, mungkin

seperti seorang bocah diwaktu riang telanjang, gemar memainkan atraksi sambitan,

kemudian ribuan layang-layang putus dan terlepas, memenuhi awan, ke atas,

dan terus melunasi piutang penerbangan, melintasi gapura langit ke sekian,


”sebagai tangga” katanya” untuk mengusik yang diam, di sana, di suatu tempat,

konon, paling, paling, paling tak terintai, tidak seperti tempatku ini, selalu

berkata ’yang kukira...yang kuduga...’”, dan tafsir seakan hanya pasir, pasir,

meluas ke tenggara.


2008

Tidak ada komentar: